Menantikan Kelahiran Anak  

Menantikan Kelahiran Anak
Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.


Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan;
Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku.
Kepada-Mu aku diserahkan sejak aku lahir,
sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku.
Mazmur22:10-11


Adakalanya kedatangananak menimbulkan kecemasan dan ketegangan pada relasi nikah itusendiri. Saya bisa memaklumi hal itu. Kita bersekolah untuk menjadiinsinyur dan dokter, namun tidak ada sekolah yang mempersiapkan kitauntuk menjadi ayah dan ibu.

Melalui artikel ini sayaingin membagikan satu masukkan yang berkaitan dengan pengaruhkelahiran anak pada relasi nikah. Pada prinsipnya, mengenai kelahirananak,

pertanyaanterpenting bukanlah, "Apakah direncanakan?" melainkanapakah "Apakah dinanti-nantikan?"

Anak yangdinanti-nantikan akan disambut dengan sukacita dan penuh pengucapansyukur; sebaliknya, anak yang tidak dinanti-nantikan, akan ditatapdengan dingin dan penuh penyesalan. Relasi suami-istri cenderungmenguat dan bertambah intim takala mereka mempunyai sikapmenanti-nantikan kelahiran anak dengan penuh dengan pengucapansyukur. sebaliknya, relasi suami-istri cenderung memburuk bila merekamemelihara sikap tidak menanti-nantikan anak.

Ada beberapa faktor yangdapat menyebabkan orangtua menolak kelahiran anak, misalnyaketidaksiapan finansial atau emosional (alias belum siap menjadiorangtua), sudah tidak ingin mempunyai anak lagi, hubungan suamiistri yang sedang tidak harmonis, atau kondisi tertentu pada anakyang membuat orangtua tidak menyukai anak itu, seperti penampilanfisik yang tidak sesuai harapan.

Apa yang harus kitalakukan apabila kita memang tidak siap untuk menyambut kelahirananak? Firman Tuhan yang tertera di atas memberikan kita beberapabutir pelajaran yang dapat kita gunakan sebagai panduan. Pertama,ingatlah bahwa seperti menanam pohon, meski kita yang menabur,sesungguhnya Tuhanlah yang menumbuhkan. Tuhanlah yang menciptakansebatang pohon dari sebuah benih, demikian juga Tuhanlah yangmenciptakan seorang anak dari perpaduan suami dan istri. Tuhanlahyang "menenun aku dalam kandungan ibuku" (mazmur 139: 13B)dan Tuhanlah yang "mengeluarkan aku dari kandungan". Dengankata lain, aku ada karena Tuhan menghendaki aku ada. Inilah prinsipkelahiran manusia yang hakiki.

Terakhir, apa pun kondisiyang mendahului kelahiran anak, sejak awal kehamilan, serahkan anakitu kepada Tuhan dan berdoalah baginya agar Tuhan Yesus menjadiTuhannya pula.

"kepada-Mu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku."

 
  Orang Tua & Anak
  • Koq, Kamu Pikir Gitu Sih?
  • Makna Ayah Bagi Anaknya
  • Membentuk Karakter Anak
  • Salib Kristus dalam Diri Anak-Anak
  •   Pasangan
  • Menantikan Kelahiran Anak
  • © 2004, Yayasan Eunike
    Design & Powered by Corpussoft